Sejarah Kecamatan Mojoroto
Sejarah dan Asal-Usul Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri
Kecamatan Mojoroto merupakan salah satu kecamatan yang terletak di bagian barat Kota Kediri, berbatasan dengan Sungai Brantas di sebelah timur dan Kabupaten Kediri di sebelah barat. Secara administratif, wilayah ini menaungi 14 kelurahan dan memiliki kekayaan sejarah yang mencakup era kerajaan, penyebaran agama, hingga masa kolonial Belanda dan kependudukan Jepang.
Salah satu aspek sejarah yang menonjol di wilayah Kecamatan Mojoroto adalah keberadaan Pabrik Gula (PG) Meritjan yang terletak di Kelurahan Mrican. Pabrik ini didirikan pada tahun 1883 oleh perusahaan swasta Nederland Indische Landbouw Maatschappij (NILM) pada masa kolonial Belanda dan masih beroperasi hingga sekarang. PG Meritjan menjadi salah satu pabrik gula paling produktif di Karesidenan Kediri hingga tahun 1935. Pada masa pendudukan Jepang, pabrik ini sempat berhenti beroperasi dan digunakan sebagai pabrik serta gudang senjata oleh para pejuang selama Agresi Militer Belanda. Produksi gula dilanjutkan kembali pada tahun 1957 setelah nasionalisasi aset kolonial oleh pemerintah Indonesia.
Di sisi topografinya, Kecamatan Mojoroto ditandai oleh bentang alam Gunung Klotok yang memiliki ketinggian 536 meter di atas permukaan laut, sekaligus menjadi titik tertinggi di Kota Kediri. Gunung ini juga menyimpan nilai sejarah dan pariwisata purbakala berupa Gua Selomangleng. Di kawasan Klotok ini terdapat destinasi wisata terkenal seperti Gua Selomangleng, Lembah Tretes, serta kolam renang dan penangkaran rusa di kompleks Brigif Wira Yudha.
Seiring berjalannya waktu, administrasi kepemerintahan wilayah ini turut berkembang. Pada tahun 2002, melalui kebijakan Otonomi Daerah, status Desa-desa di Kecamatan Mojoroto secara resmi beralih menjadi Kelurahan. Wilayah yang dahulunya dipimpin oleh Kepala Desa secara mandiri, kemudian diintegrasikan pengelolaannya di bawah naungan Lurah dari lingkungan ASN Pemerintah Kota Kediri.